Home > Renungan > Analisa Pikiran Ala Bertrand Russell – Bagian 1

Analisa Pikiran Ala Bertrand Russell – Bagian 1

Setelah postingan saya kemarin tentang kepenatan dalam kerja, saya memang sudah niat untuk membaca buku Bertrand Russell – The Analysis of Mind.

Om Bertrand lagi ngudud

Belum banyak saya membaca, tapi sudah nemu beberapa hal yang menggelitik. Semisal:

1. “…and that there is no enemy to thinking so deadly as a false simplicity.”

Kalimat yang saya sudah dengar dari dulu, dan saya setuju. Saya dengar dari teman saya. Eh… ternyata aslinya dari Om Bertrand. Tapi nggak tau juga kalau itu memang kalimat umum di kalangan jenius filsafat.

2. On the other hand, in seeing or hearing it would be less misleading
to say that you have object without content, since what you see or hear
is actually part of the physical world, though not matter in the sense
of physics.

Pada bagian ini Om Bertrand menjelaskan persepsi beliau tentang pikiran manusia. Tadinya beliau menjelaskan tentang prosedur berpikir ala Meinong. Menurut Meinong, berpikir itu terbagi menjadi 3:

1. Aktivitas Berpikir

2. Isi dari pikiran. Misal, “Saya berpikir tentang matematika”.

3. Object yang dipikirkan. Misal, Calculus.

Tetapi kemudian Om bertrand tidak setuju dengan persepsi 3 bagian berfikir ala Meinong, dan membangun argumen nya sendiri.

Quate yang diatas adalah apa yang terjadi ketika kita mendengar atau melihat.

Menurut Bertrand Russel, yang ada hanyalah Objek dan pikiran saja. Tidak ada content (isi) dari pikiran tersebut. Dan ini cukup membingungkan saya.

Memang betul, kita manusia merespon objek di sekeliling dengan cara misalnya melihat ataupun mendengar itu. Tapi, apa memang langsung melompat ke pikiran begitu? Apa memang benar-benar tidak ada content nya?

Saya masih sampai di bab-bab awal. Nanti kalau sudah ketemu jawabannya akan saya paparkan lagi.

Dan satu lagi, masih lebih enak baca buku kertas daripada baca buku pake laptop. Sayangnya, buku kertas mahal betul. Bertrand Russell – The Analysis of Mind harganya sekita US$33 di Singapore Kinokuniya Book Store. Woiks!

Categories: Renungan
  1. Faradina
    May 4, 2008 at 10:22 pm

    Aku sih gak setuju kalo Bertrand bikin pernyataan kayak gitu tentang berfikir. Biasanya semua proses punya 3 komponen. Misalnya dalam berfikir. Alat yg kita pakai adalah otak. Tentu saja harus ada sesuatu sebagai obyek fikiran kita. Lalu harus ada cara utk berfikir, kita sebut aja metode. Nah.., ada 3. Hasil atau kesimpulan dari sebuah pemikiran disebut apa? Itu sudah bukan lagi dalam lingkup proses, kan.
    Btw, blog ini punya postingan yg bagus. Kita tukeran link yuk. Besok aku bikinkan linknya. Sekarang mau bobo dulu. Udah malam.
    Met malam…

  2. May 5, 2008 at 8:52 am

    Haiks?
    Ya nggak setuju nggak papa sih…

    Cuman apa aku salah nangkep ya? Kayaknya Om Bertrand berpandangan yang beda dengan Mbah Meinong deh…

    Asik… tambah 1 link. Hehehe…

  3. Faradina
    May 5, 2008 at 10:40 am

    Meinong juga gak memasukkan subyek dalam pernyataannya tentang proses berfikir. Manusianya yg diwakili oleh otak, harus disebutin juga dong. Lha…, kalo gak ada manusianya, apa ya ada proses berfikir itu? Iya, kan.

    Tadi aku mampir kesini utk ngelaporin kalo blog ini udah aku link. Pas lihat di blogroll, eh…, blogku malah udah di-link duluan. Jadi malu nih. Kalah cepat.

    Makasih ya.

  4. May 5, 2008 at 10:47 am

    Wah… malah seru nih…

    Bentar ya mas. Tak kerja dulu. Nanti kita lanjutkan lagi diskusinya.

  5. May 5, 2008 at 7:31 pm

    Oke.. Meinong memang nggak memasukkan subjek (manusia).

    Kalau menurut Om Bertrand, bagian pertama (The Act) itu tidak perlu. Berpikir adalah bayangan dari kesadaran. Selama manusia itu sadar, manusia pasti melakukan act berpikir (meskipun untuk statement ini saya harus melanjutkan bacanya).

    Jadi, sebenernya ini adalah penyempitan lingkup pembicaraan. Manusia ada, manusia berpikir, isi pikiran, dan objeck. Stop

    Kalau nggak diputus di Manusia, maka pembahasannya mungkin akan nyambung ke kalau nggak ada sup primordial, nggak akan ada organisme, dan nggak akan ada manusia, makanya nggak ada pikiran. Ini contoh yang parah sih. Tapi kan lingkup pembicaraan nggak segitu.

    Atau mungkin kita minta bantuan Mas Haqiqie.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: